Saudara yang terkasih ;
Ada seorang teman anak kami yang bekerja sebagai dosen di luar kota. Sementara ia bekerja itu, dia hidup sebagai anak kos-kos an yang super ngirit, makan seadanya, pergi ke tempat kerja atau universitas tempat dia mengajar hanya dengan berjalan kaki atau naik sepeda untuk menghemat biaya transportasi. Dengan gaya hidup seperti itu dan gaji seorang dosen universitas ternama di ibukota, tentunya ada uang yang bisa ditabung, dan jumlahnya tidak sedikit. Begitu awal pemikiran anak kami. Tetapi ternyata, seorang yang kenal dekat dengan teman tadi bercerita, bahwa sebagian besar sisa gaji dosen ini ( setelah dipotong biaya sehari-hari selama sebulan), dikirimkan kepada orang tuanya di kampung halaman. Jadi dia sendiri tidak memegang uang banyak. Bagian terbesar diberikan kepada orang tuanya. Betapa mulia ternyata hatinya, mau menyisihkan uang gajinya untuk diberikan kepada orang tua tercinta di kampung.
Saudara, kita tidak bisa menjudge atau mendakwa seseorang hanya dari yang kelihatan di luar saja. Apa yang nampaknya seperti indah, belum tentu benar-benar indah. Namun sebaliknya, apa yang nampaknya buruk, belum tentu di dalamnya juga buruk. Kasus cerita anak teman kami di atas salah satunya. Awalnya kami pikir dia agak keterlaluan juga pelitnya, bahkan untuk dirinya sendiri pun tidak dia pikirkan. Makanan yang sedikit mahal tidak dibelinya, begitu pula dengan baju dan lain-lain keperluan yang sifatnya konsumtif. Tetapi ternyata, dia punya hati luar biasa yang sangat mencintai orangtuanya.
Marilah kita tidak dengan mudah mencap seseorang, karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lebih jauh lagi, kita juga tidak tahu apa yang dia pikirkan atau rasakan. Ayat di atas kiranya menjadi peringatan buat kita semua. Amin…
Ary dan Ester Handoko

