13 Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada TUHAN. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji TUHAN dengan ucapan: "Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan, 14 - sehingga imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah Allah.

II Tawarikh 5:13-14

9 Juni 2019

Saudara yang terkasih, 

Kembali sebuah pertanyaan lama muncul ketika bertemu seorang teman lama, dia bertanya begini,”Maaf mau nanya, mungkin ini kedengaran klise, tapi bener-bener saya tidak mengerti, kenapa di gerejamu itu lucu sekali di dalam menyembah TUHAN? Menyanyi sambil nangis-nangis ? Bukankah lagunya kata-katanya enak, kenapa pakai nangis ? Bukankah kata-katanya berupa janji-janji TUHAN yang luar biasa, kalau kita beneran percaya dengan kata-katanya, lalu kenapa nangis ? Apakah karena mata bawang ? Self pity (mengasihani diri sendiri)? Tidak percaya janji TUHAN ? Sudah kebiasaan ?”
Saudara, pertanyaan semacam ini mungkin pernah mampir juga kepada saudara. Apapun kata orang, tapi buat kita, kita menangis bukan karena semua alasan diatas, tetapi karena kita MERASAKAN HADIRAT TUHAN ! Karena kita merasa bahwa TUHAN DEKAT. Karena kerinduan hati kepada TUHAN. Karena kita cinta dan kangen berat kepada-NYA. Karena memang, hadirat-NYA yang kuat itu tidak akan dapat membuat seorang pun berdiri tegak, semua lutut akan bertekuk dan semua lidah akan mengaku bahwa DIA adalah TUHAN Yang Benar.
Bebaslah berekspresi di dalam memuji dan menyembah TUHAN. Bebaskanlah roh, jiwa dan tubuh kita. TUHAN itu Baik. DIA nyata dan ADA. DIA hadir setiap kali kita rindukan DIA di dalam pujian dan penyembahan…

Hatiku mengasihi-MU
Hatiku mengasihi-MU
Hatiku ingin mengenal-MU
ingin mengerti-MU
TUHAN KAU lihat isi hatiku

Ary dan Ester Handoko