Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

I Korintus 13:11

6 Oktober 2019

Saudara yang terkasih,

Di gereja saat ini ada beberapa bayi yang diajak beribadah oleh orangtuanya. Karena namanya masih bayi, maka bayi ini akan digendong, disediakan susu setiap saat, selalu diperhatikan setiap waktu, diberi tempat tidur dan ‘diperbolehkan’ untuk tidur di dalam gereja bahkan di jam kebaktian. Kadang-kadang bayi ini ramai sendiri, menangis sewaktu-waktu dan meronta-ronta dengan heboh. Tetapi tidak ada yang menyalahkan, karena memang dia masih seorang bayi. Yang lain harus duduk dengan tenang selama jam ibadah, tetapi dia tidur sendiri. Atau heboh sendiri. Ketika sudah menjadi balita, yang lain mendengarkan kotbah, sementara dia sibuk berjalan-jalan kesana kemari. Itupun tidak ada yang menyalahkan karena memang umur dia masih balita. Tetapi seorang bayi atau balita tidak selama-lamanya berada pada umur itu. Dia akan beranjak dewasa. Disiplin dan tata cara mulai diterapkan. Hidup harus makin bisa diatur. Tidak bisa lagi semau gue. Tidak bisa lagi ngambek-ngambekan. Semakin besar dan semakin dewasa, harus makin lebih tertib lagi. Makin lebih taat peraturan. Tidak semakin susah diatur.
Saudara, anak TUHAN juga seharusnya begitu. Semakin dewasa rohani semakin bisa diatur. Semakin taat pada hukum TUHAN yang berlaku. Makin setia dan dengar-dengaran pada seluruh firman TUHAN. Tidak ngambekan bila mendapat hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Dahulu memang kita pernah jadi kanak-kanak rohani, tetapi sekarang kita sudah makin dewasa secara rohani di dalam pengenalan akan TUHAN. Tentunya keinginan untuk menyenangkan hati TUHAN harus juga semakin besar. Keinginan untuk taat dan setia kepada-NYA semakin tinggi, melebihi apapun di dunia ini.
Semakin dewasa, semakin bertambah umur rohani di dalam TUHAN, semakin taat seharusnya kita kepada hukum-hukum-NYA.


Seorang yang dewasa rohani :
tahu akan tanggung jawabnya,
menyukakan hati Tuhan,
bukan mencari pujian yang sia-sia.

Ary dan Ester Handoko