Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu

Amsal 3 : 7 - 8

Saudara yang terkasih, 

Beberapa waktu yang lalu Indonesia kehilangan seseorang cendekiawan ternama, sekaligus eks Presiden RI, yaitu bapak Habibie, ketika beliau wafat pada usia ke 83 tahun. Beliau adalah orang Indonesia pertama yang berhasil membuat pesawat terbang, dan diakui oleh dunia internasional. Cukup membanggakan melihat semua prestasi yang beliau raih selama hidupnya. Beliau diakui sebagai seorang cerdik cendekia dan seseorang yang sangat pandai di bidangnya. Susah sekali untuk menemukan orang sekaliber beliau di negara Indonesia ini.
Tetapi siapakah orang yang pandai menurut firman TUHAN ? Ternyata justru orang yang tidak menganggap diri sendiri bijak, yang TAKUT akan TUHAN, yang menTAATi TUHAN lebih dari segalanya dan menjauhi segala yang jahat. Dunia punya standard tersendiri untuk mengatakan seseorang pandai. Tetapi TUHAN juga punya standard tertentu untuk mengatakan seseorang berhikmat dan bijaksana. Bukan cuma berhenti sampai menghafal firman, mengerti firman, tetapi yang taat melakukan firman. Sebab di dalam taat dan TAKUT akan TUHAN itulah, DIA akan menuntun kita lebih dalam lagi, selangkah demi selangkah, tentang hal-hal yang tidak kita mengerti.

Oh give thanks to the LORD for HE is GOOD,
For HIS steadfast love endures forever,
Oh give thanks to the LORD for HE is GOOD,
For HIS steadfast love endures forever…

Ary dan Ester Handoko

Lihat, AKU berdiri di muka pintu dan mengetok, jikalau ada orang yang mendengar suara-KU dan membukakan pintu, AKU akan masuk mendapatkannya dan AKU makan bersama-sama dengan dia, dan dia bersama-sama dengan AKU

Wahyu 3 : 20

Saudara yang terkasih, 

Bagi yang mengerti dunia media sosial yang bernama Instagram pasti tahu, bahwa ada banyak orang membuat akun Instagram untuk tujuan komersil, untuk jualan aneka macam produk, tetapi ketika kita ‘berkunjung’ ke ig (Instagaram)-nya, ternyata ig nya itu digembok. Sungguh aneh sekali. Ini sama dengan jika kita ke suatu mall yang besar, di parkiran ada orang membagikan brosur iklan sebuah toko (misalnya saja toko baju) dengan maksud supaya toko itu dikenal orang, tetapi ketika kita datang mencari toko itu, tokonya dalam keadaan terkunci rapat. Tentu tidak ada orang yang mau menunggu di depan pintu sampai - entah kapan - pintu itu dibukakan untuk kita, bukan ?! Kecuali orang yang benar-benar perlu dengan barang yang dijual didalamnya. Kalau tidak, pasti orang akan segera berbalik arah meninggalkan toko itu, dan tidak pernah kembali lagi.
Saudara, hal menggelikan diatas itu mengingatkan kami pada kondisi yang mirip, yang terjadi di gereja. Ada orang yang datang ke gereja, bahkan cukup rajin datang di jam-jam ibadah gereja, namun ketika pujian dinaikkan dan firman disampaikan, ia menutup rapat pintu hatinya. Ia tidak mau menerima firman itu dengan hati terbuka. Dia tidak mau merasakan hadirat TUHAN yang datang menyapanya lewat puji-pujian. Ia datang ke gereja hanya seperti ‘absen’saja. Setelah urusan ‘check clock’ selesai, pulanglah dia tanpa ada perubahan apapun, tanpa membawa berkat apapun. Selesai sudah urusan absensi dengan TUHAN (pikirnya), dan dia sudah merasa cukup dengan itu.
TUHAN yang kita sembah adalah TUHAN yang Gentleman. TUHAN yang sangat mengerti tata krama dan sangat sopan. Bila seseorang tidak mempersilakan DIA masuk dan merubah hatinya, DIA tidak akan memaksa untuk masuk. Cukup mengejutkan bahwa ternyata ayat emas diatas diletakkan di kitab Wahyu, bukan di bagian Injil atau kitab-kitab sebelumnya. Rupanya ayat ini menjadi peringatan buat semua orang, bahwa TUHAN masih menunggu, sampai saat yang paling akhir dari dunia yaitu akhir jaman, untuk mengajak sebanyak-banyaknya orang bertobat dan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sebab TUHAN sangat mengasihi manusia ciptaan-NYA, lebih dari yang kita pikirkan.

Don’t let your heart be troubled
Hold your head up high
Don’t fear no evil
Fix your eyes on this one thruth
GOD is madly in love with you….

Ary dan Ester Handoko

Lihat, AKU mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati

Matius 10 : 16

Saudara yang terkasih, 

“Jelaskan sama saya, bagaimana soal cerdik tetapi harus tulus ini. Semuanya seperti berkebalikan, tetapi ‘kan katanya harus ‘kena’ kedua-duanya. Bingung saya. ”Begitu kata seorang anak kami di suatu siang. Dia memang sedang menghadapi sedikit masalah di sekolahnya. Ada seorang anak yang kebetulan dulu pernah ditetapkan untuk duduk sebangku dengannya, kemudian anak ini menjadi ‘benalu’ baginya. Anak yang malas, sehingga selalu minta contekan, tanya-tanya melulu karena tidak pernah mendengarkan perintah guru dengan benar. Dan repotnya kalau bagi tugas kelompok selalu dipasangkan dengan anak kami ini. Tetapi baru-baru ini, tiba-tiba guru wali memindahkan anak ini untuk duduk dengan teman yang lain. Maka ada perasaan lega dan senang, tetapi juga sekaligus rasa bersalah karena merasa senang itu tadi di hati anak kami. Sehubungan dengan hal itulah, maka ayat diatas dipertanyakannya. Maka di siang hari itu, kami memberikan kepadanya beberapa contoh, sehingga akhirnya dia bisa mengerti arti ayat itu.
Saudara, TUHAN menyuruh kita menjadi cerdik seperti ular tetapi bersamaan dengan itu DIA juga menyuruh kita untuk tulus seperti merpati. Sungguh suatu perpaduan yang unik. Tetapi begitulah TUHAN kita. DIA tahu yang terbaik. Dan kita harus bisa melakukannya. Tidak sulit, bila kita minta hikmat TUHAN senantiasa. Seperti apa yang tertulis, begitu saja yang DIA minta. Menjadi jujur, bukan berarti membuat kita menjadi bodoh. Tetap pintar mengambil keputusan, tetapi sekaligus tetap jaga hati untuk selalu berkenan di hadapan TUHAN. Jangan berbohong dan berputar-putar. Jangan biarkan timbul hati yang jahat, mulut yang berbohong, dan sikap yang berkompromi dengan dosa dan pemberontakan. Jadikan hidup kita selalu berkenan di hadapan TUHAN.

Kupersembahkan hidupku kepada-MU TUHAN
‘Tuk kemuliaan-MU
Kuberikan hidup ini s’bagai persembahan
Yang berkenan pada-MU

Ary dan Ester Handoko

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya

Pengkotbah 3 : 1

Saudara yang terkasih, 

Tahukah saudara bahwa untuk bisa mendapat telur setengah matang yang bagus itu perlu waktu yang tertentu. Caranya adalah : didihkan air, setelah air mendidih, masukkan telur, pasang timer untuk 3 menit, kecilkan api, sesudah 3 menit matikan apinya dan tiriskan telurnya. Maka telur setengah matang bisa disajikan segera. Tips ini untuk telur ayam kampung. Jika saudara merebus telur ayam negeri yang agak besar, setelah api dimatikan bisa ditunggu beberapa saat dulu di dalam air rebusan panas itu sebelum ditiriskan. Selamat mencoba.
Sama seperti cara memasak yang memerlukan waktu tertentu supaya masak sempurna, begitu pula cara TUHAN mengatur segala masa di dunia ini. Ada waktu DIA. Di Pengkotbah dijelaskan bahwa ada waktu untuk segala sesuatu, untuk apapun di bawah langit ini ada waktunya. Untuk sebuah pohon mangga dipetik buahnya pun, harus ada waktu tertentu. Kita musti sabar menunggu waktu itu. Untuk sekuntum bunga mawar bisa merekah sempurna, kita juga harus menunggu, tidak bisa dengan tangan kita buka sendiri putik-putik bunganya, karena itu justru akan merusak bunga itu.
Saudara, jika TUHAN bergerak pada waktuNYA, pada masaNYA, maukah kita dengan sabar menunggu ? TUHAN tidak tidur, dan DIA selalu bekerja. Yang diperlukan hanya sedikit kesabaran untuk menunggu waktu TUHAN. Apa yang saat ini sedang saudara nantikan, bisakah kita sabar menunggu sampai TUHAN memberkati kita, pada waktu-NYA, bukan pada waktu kita ? Dan senantiasa ingatlah, bahwa DIA tidak pernah berlambat-lambat. DIA selalu tepat waktu untuk memberkati kita sesuai dengan kemurahan-NYA yang tak terbatas.

Waktu TUHAN bukan waktu kita
Jangan sesali keadaannya
Untuk semua ada waktu TUHAN
Tetap setia mengandalkan-NYA

Ary dan Ester Handoko

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

I Korintus 13:11

Saudara yang terkasih,

Di gereja saat ini ada beberapa bayi yang diajak beribadah oleh orangtuanya. Karena namanya masih bayi, maka bayi ini akan digendong, disediakan susu setiap saat, selalu diperhatikan setiap waktu, diberi tempat tidur dan ‘diperbolehkan’ untuk tidur di dalam gereja bahkan di jam kebaktian. Kadang-kadang bayi ini ramai sendiri, menangis sewaktu-waktu dan meronta-ronta dengan heboh. Tetapi tidak ada yang menyalahkan, karena memang dia masih seorang bayi. Yang lain harus duduk dengan tenang selama jam ibadah, tetapi dia tidur sendiri. Atau heboh sendiri. Ketika sudah menjadi balita, yang lain mendengarkan kotbah, sementara dia sibuk berjalan-jalan kesana kemari. Itupun tidak ada yang menyalahkan karena memang umur dia masih balita. Tetapi seorang bayi atau balita tidak selama-lamanya berada pada umur itu. Dia akan beranjak dewasa. Disiplin dan tata cara mulai diterapkan. Hidup harus makin bisa diatur. Tidak bisa lagi semau gue. Tidak bisa lagi ngambek-ngambekan. Semakin besar dan semakin dewasa, harus makin lebih tertib lagi. Makin lebih taat peraturan. Tidak semakin susah diatur.
Saudara, anak TUHAN juga seharusnya begitu. Semakin dewasa rohani semakin bisa diatur. Semakin taat pada hukum TUHAN yang berlaku. Makin setia dan dengar-dengaran pada seluruh firman TUHAN. Tidak ngambekan bila mendapat hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Dahulu memang kita pernah jadi kanak-kanak rohani, tetapi sekarang kita sudah makin dewasa secara rohani di dalam pengenalan akan TUHAN. Tentunya keinginan untuk menyenangkan hati TUHAN harus juga semakin besar. Keinginan untuk taat dan setia kepada-NYA semakin tinggi, melebihi apapun di dunia ini.
Semakin dewasa, semakin bertambah umur rohani di dalam TUHAN, semakin taat seharusnya kita kepada hukum-hukum-NYA.


Seorang yang dewasa rohani :
tahu akan tanggung jawabnya,
menyukakan hati Tuhan,
bukan mencari pujian yang sia-sia.

Ary dan Ester Handoko