Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun

Ulangan 6 : 6 - 7

Saudara yang terkasih, 

Saat sedang kontrol rutin di sebuah rumah sakit, kami melihat ada selembar catatan ditempel di atas kaca di wastafel rumah sakit yang menjelaskan tentang prosedur mencuci tangan yang benar. Begitu sederhana proses mencuci tangan, kenapa musti ditempel di kaca toilet sebuah rumah sakit ? Padahal yang bercermin juga banyak orang yang sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. Selain itu, bukankah kita semua rasanya sudah pintar mencuci tangan sendiri ? Kenapa tahapan-tahapannya harus dijelaskan dengan begitu rinci ? Tetapi rupanya, pelajaran sederhana seperti ini memang harus diulang dan diingatkan lagi. Bukan karena manusia bodoh (pasti tidak ada yang mau dibilang bodoh), tetapi karena ‘lupa’, atau ‘malas’, atau tidak peduli kebersihan. Padahal hal sederhana itu penting sekali untuk kesehatan kita.
Saudara, seperti halnya prosedur mencuci tangan yang harus dicermati lagi, begitu pula dengan prosedur menjadi murid YESUS. Begitu sederhana dan mendasar mustinya. Tetapi mengapa kita harus mendengarkan uraiannya tiap minggu, bahkan tiap beberapa hari sekali lewat kotbah para hamba TUHAN ? Semuanya itu sangat perlu, ternyata, untuk membentuk rohani kita lebih baik lagi. Jangan pernah bosan, jangan pula berkata bahwa kita tidak perlu. Ternyata, kita sangat memerlukannya.


Kiranya kita semakin bertumbuh
Di dalam kasih kuasa-NYA
Yang begitu besar tercurah
Atas kita semua….

Ary dan Ester Handoko

Sebab mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-NYA kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat

I Petrus 3 : 12

Saudara yang terkasih, 

Kami kenal seorang pendeta tua, opa-opa, (sekarang si opa ini sudah meninggal), yang selalu membawa kamera saat kebaktian umum. Bahkan di saat kebaktian umum biasa di hari Minggu. Dari depan (dari kursinya di belakang mimbar), dia akan memotret jemaat yang hadir hari itu. Ketika koor gereja maju (ini adalah jenis gereja yang setiap minggu selalu ada koor gerejanya), itu juga akan dipotretnya. Kami sempat berpikir, apa tidak bosan sendiri ya melihat foto jemaat duduk yang hampir dalam posisi yang sama setiap minggunya ? Juga koor gereja yang -hampir selalu pakai baju putih-putih- dengan tatanan yang hampir sama setiap minggunya juga? Tetapi mungkin buat kita bosan, buat si opa tidak. Mungkin dia berbahagia ketika melihat foto-foto jemaat yang setia datang ke gereja, walaupun hampir sama terus setiap minggu.
Saudara, ALLAH semesta alam yang Nama-NYA kita kenal dalam nama YESUS itu, senantiasa juga memperhatikan kita. Bahkan DIA hadir saat kebaktian rutin setiap minggu, setiap hari di dalam gereja. Dan IA selalu memperhatikan kehadiran kita. Tidak pernah putus-putusnya mata-NYA memandang masing-masing kita, segala sesuatu ada di dalam ‘lensa kamera pengawasan-NYA’. Hiduplah dengan BENAR di hadapan TUHAN. DIA perhatikan kita dan DIA tidak pernah bosan ‘membidik’ kita setiap saat.

Mata TUHAN melihat
Apa yang kita perbuat
Baik yang baik, maupun yang jahat
Oleh sebab itulah
Jangan berbuat jahat
TUHAN melihat

Ary dan Ester Handoko

13 Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada TUHAN. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji TUHAN dengan ucapan: "Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan, 14 - sehingga imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah Allah.

II Tawarikh 5:13-14

Saudara yang terkasih, 

Kembali sebuah pertanyaan lama muncul ketika bertemu seorang teman lama, dia bertanya begini,”Maaf mau nanya, mungkin ini kedengaran klise, tapi bener-bener saya tidak mengerti, kenapa di gerejamu itu lucu sekali di dalam menyembah TUHAN? Menyanyi sambil nangis-nangis ? Bukankah lagunya kata-katanya enak, kenapa pakai nangis ? Bukankah kata-katanya berupa janji-janji TUHAN yang luar biasa, kalau kita beneran percaya dengan kata-katanya, lalu kenapa nangis ? Apakah karena mata bawang ? Self pity (mengasihani diri sendiri)? Tidak percaya janji TUHAN ? Sudah kebiasaan ?”
Saudara, pertanyaan semacam ini mungkin pernah mampir juga kepada saudara. Apapun kata orang, tapi buat kita, kita menangis bukan karena semua alasan diatas, tetapi karena kita MERASAKAN HADIRAT TUHAN ! Karena kita merasa bahwa TUHAN DEKAT. Karena kerinduan hati kepada TUHAN. Karena kita cinta dan kangen berat kepada-NYA. Karena memang, hadirat-NYA yang kuat itu tidak akan dapat membuat seorang pun berdiri tegak, semua lutut akan bertekuk dan semua lidah akan mengaku bahwa DIA adalah TUHAN Yang Benar.
Bebaslah berekspresi di dalam memuji dan menyembah TUHAN. Bebaskanlah roh, jiwa dan tubuh kita. TUHAN itu Baik. DIA nyata dan ADA. DIA hadir setiap kali kita rindukan DIA di dalam pujian dan penyembahan…

Hatiku mengasihi-MU
Hatiku mengasihi-MU
Hatiku ingin mengenal-MU
ingin mengerti-MU
TUHAN KAU lihat isi hatiku

Ary dan Ester Handoko

Sebab itu siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh

I Korintus 10 : 12

Saudara yang terkasih, 

Cerita Alkitab tentang Petrus menyangkal YESUS 3 kali sebelum YESUS disalibkan, tentu sudah tidak asing lagi. Dan di antara kita banyak yang berkata bahwa kita tidak mungkin akan melakukan hal yang sama. Benarkah ? Marilah kita merenungkan bersama hal-hal di bawah ini.
Di dalam kebaktian, iman kita terasa kuat saat kita dengar firman TUHAN dan janji-janji TUHAN. Tetapi saat menjalani hari-hari yang penuh masalah, kita mulai meragukan kehadiran TUHAN untuk membimbing langkah kita…
Di dalam persekutuan dengan saudara seiman, kita menyanyi dengan luar biasa bersemangat, berkata bahwa DIA sanggup memberkati. Tetapi saat melihat tagihan datang begitu besar di depan mata, tapi tabungan di bank tidak ada, kita mulai bertanya-tanya dimana TUHAN…
Di saat sehat kita bersaksi kesana kemari tentang ALLAH yang Baik, tetapi ketika DIA ijinkan sakit menghampiri kita, tiba-tiba kita merasa down dan mulai berpikir untuk mencari alternatif pengobatan yang tidak cocok dengan Firman TUHAN…
Juga ketika seorang teman akrab, tiba-tiba mengajak untuk ikut ‘berpesta dunia’ yang TUHAN tidak suka, tetapi kita mengabaikannya dengan alasan sungkan sama teman - dan memang pesta itu menarik hati kita -…
Saudara, semua contoh di atas adalah cerita sederhana yang sehari-hari bisa terjadi. Di saat kita ada dalam posisi seperti itu, bukankah itu mirip dengan kisah Petrus yang bersikap seolah-olah TUHAN tidak ada, atau tidak kenal TUHAN ? Petrus mengabaikan kehadiran TUHAN, dan bila kita juga tidak lulus dalam ujian-ujian kecil seperti contoh diatas, kita pun berada pada posisi yang sama dengan Petrus.
Pada akhirnya, ternyata semua ayat di Alkitab itu cocok dengan cerita hidup kita. Sebab itulah, ayat emas hari ini mengingatkan kita sekali lagi untuk tidak sombong dan merasa teguh berdiri. Karena barangsiapa menyangka dia berada pada posisi itu, berhati-hatilah, kejatuhan sudah diambang mata…

BAPA ajar aku ikut
Apa juga maksud-MU
Tak bersangsi atau takut
Beriman tetap teguh

Ary dan Ester Handoko

Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki TUHAN dan terus mendengarkan perkataan-NYA..

Lukas 10 : 39

Saudara yang terkasih, 

Sekali lagi tentang Maria dan Marta. Kisah si Marta, sebenarnya adalah gambaran dari kebanyakan kita. Sering kita punya begitu banyak alasan untuk tidak duduk dekat YESUS. Mungkin dengan berbagai macam alasan, seperti : repot lah, kerja lah, lagi refreshing lah… Bahkan di hari-hari libur, kita masih juga menggunakannya untuk bekerja atau selalu mengajak keluarga pergi jalan-jalan, sehingga tidak sempat datang di rumah TUHAN. Tiap hari bekerja sampai malam, sehingga beralasan untuk tidak pernah ada kesempatan untuk duduk ( baca : berdoa malam, berdoa puasa, atau berdoa syafaat) dibawah kaki TUHAN. Lalu, kapan sempatnya ? Kalau tidak disempatkan, memang tidak akan pernah sempat. Begitulah kenyataannya, sebab waktu itu diberikan TUHAN kepada kita, 24 jam sehari, untuk kita mengaturnya sendiri.
Kita selalu berkilah tidak sempat. Padahal TUHAN datang, menunggu kita. DIA setia, hendak memberkati kita. TUHAN yang Maha Sibuk saja menyempatkan diri untuk bertemu kita. Kenapa kita tidak sempat ? Jikalau YESUS jengkel dan prihatin kepada Marta, tidakkah DIA juga akan bersikap sama dengan kita, bila kita menghindar terus dengan berbagai alasan untuk ‘menyibukkan diri’ dan tidak mendekat kepada-NYA?

Lebih baik satu hari di pelataran-MU
Dari pada seribu hari di tempat lain
Memuji-MU menyembah-MU KAU ALLAH yang Hidup
Dan menikmati s’mua kemurahan-MU

Ary dan Ester Handoko