Carilah TUHAN selama IA berkenan ditemui; berserulah kepada-NYA selama IA dekat !

Yesaya 55 : 6

Saudara yang terkasih, 

Apakah yang terpikir di benak saudara ketika melihat pengumuman tentang ibadah-ibadah doa ? Apakah hati saudara bersorak dan berkata :’Puji TUHAN, aku rindu bertemu dengan-NYA, curhat kepada-NYA dalam doa malam, doa puasa, atau doa syafaat,’ …atau hal lain yang muncul: ‘Ah, males lah, pulang kerja udah capek juga, enakan istirahat di rumah.’ Atau malah saudara tidak peduli sama sekali karena merasa selalu tidak ada waktu dan tidak perlu datang ke kebaktian doa semacam itu.
Banyak beredar video pendek di youtube, bagaimana rakyat Inggris rela berjajar dan berdesakan di tepi jalan dimana Ratu Inggris beserta rombongan kerajaan akan lewat sejenak disana untuk suatu acara, misalnya pernikahan kerajaan. Padahal hawa disana begitu dingin, bahkan berbicara saja keluar asap dari mulut, yang menggambarkan betapa dinginnya udara London. Tetapi untuk sekedar menyaksikan kereta kencana itu lewat hanya beberapa detik saja, mereka rela menunggu berdiri berjam-jam sambil berdiri dan kedinginan.
Saudara, apakah ada yang lebih penting bagi saudara dibanding bertemu dengan TUHAN? Jika TUHAN yang RAJA diatas segala raja, DIA yang Maha Mulia mengundang kita, dan DIA berkenan untuk ditemui, tidakkah seharusnya DIAlah yang kita utamakan dan cari dengan segenap hati? Tidakkah TUHAN yang seharusnya kita paling rindukan tatkala kita memanggilnya dalam lagu-lagu pujian yang kita nyanyikan di gereja, dan kita sebut dengan kata mesra : ‘Kekasih Jiwa’ kita?

Jika kita sungguh mengasihi-NYA,
Selalu akan ada waktu untuk berjumpa dengan-NYA…

Ary dan Ester Handoko

IA berkata kepada mereka : "Karena kamu kurang percaya. Sebab AKU berkata kepadamu : Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini : Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu"

Matius 17 : 20

Saudara yang terkasih,

Ayat di atas adalah sebuah ayat yang sudah sangat sering dibahas. TUHAN berkata bahwa kalau saja kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja (yang ternyata ukurannya benar-benar kecil, hanya berdiameter beberapa milimeter), maka kita bisa ‘memindahkan gunung”, atau artinya : melakukan hal-hal yang besar, bahkan hal-hal yang mustahil. Tetapi tahukah saudara, bahwa iman itu, adalah karunia TUHAN kepada kita ? Tanpa mendapat karunia, tanpa diberi oleh TUHAN, maka mustahil kita bisa mempunyai iman. Bisa mengenal TUHAN sebagai Penebus manusia, itu adalah karunia. Berarti : memiliki iman kepada DIA, juga otomatis adalah karunia. Bila IA tidak menyatakan diri kepada kita, mustahil kita bisa mengenal DIA. Dikenal dan mengenal TUHAN sebagai dasar iman percaya, adalah karunia. Oleh sebab itu, iman juga adalah karunia.
Saudara, jadi apa artinya ayat diatas ? Artinya : percayailah TUHAN dengan karunia yang IA anugerahkan kepada kita ! Pakailah iman yang sudah DIA berikan kepada kita sebagaimana seharusnya, yaitu mempercayai DIA secara keseluruhan, atau 100%. TUHAN itu berdaulat atas seluruh alam semesta, berarti juga DIA berdaulat atas hidup kita. Iman sebesar (atau sekecil apapun), itu adalah pemberian TUHAN. Pandanglah itu sebagai sesuatu yang sangat berharga.

YESUS KAU anugerah terindah dalam hidupku,
KAU sungguh berarti di setiap jalanku,
Anugerah-MU selalu mempesonaku,
YESUS KAU terbaik,
YESUS KAU termanis,
Di dalam hidupku

Ary dan Ester Handoko

Firman-NYA:"Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala !"

Yesaya 43 : 18

Saudara yang terkasih, 

Ada sebuah ungkapan yang sebenarnya betul, tetapi selalu mengundang senyum bila kita mendengarnya. Ungkapan itu berbunyi : "Buanglah mantan pada tempatnya". Arti sederhana dari ungkapan itu sebenarnya mengajak seseorang yang pernah memiliki mantan itu untuk move on, atau meneruskan hidup. Melupakan yang lama dan kembali mencari yang baru. Bersemangat lagi menghadapi masa depan. Tidak bersikukuh menyalahkan yang lama atau mengharapkan "si mantan" itu kembali lagi.
Saudara, firman TUHAN sudah menyebutkan bahwa apa yang lalu, biarlah itu berlalu. TUHAN sudah menyediakan masa depan yang indah di depan sana. Itu DIA sediakan untuk semua anak-anak-NYA. TUHAN sangat tidak suka bila kita menganggap bahwa yang lalu itu lebih indah dibanding dengan berkat TUHAN yang disediakannya untuk kita. TUHAN selalu berkata, bahwa masa depan kita cerah. Yang tersedia di depan, jauh lebih indah daripada masa lalu kita. Jangan mengingat-ingat masa lalu yang penuh dengan kesalahan dan dosa. TUHAN sudah hapus semua dosa dan kesalahan kita, dan IA mau kita berjalan dengan DIA menjemput masa depan yang penuh harapan. "Lihat, AKU hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumlah kamu mengetahuinya?" Yesaya 43 : 19a
"Buanglah mantan pada tempatnya," ternyata juga TUHAN ingin katakan kepada kita.

Yang kuingini ENGKAU saja,
diam dalam kehendak rencana-MU,
pisahkan diriku dari dunia ini,
Semakin kudamba Kerajaan-MU

Ary dan Ester Handoko

Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba

Markus 13 : 33

Saudara yang terkasih, 

Bila saudara sering nonton youtube atau video pendek yang ada di Instagram, ada beberapa yang memasang tulisan : Wait ‘till the end, yang artinya : tunggulah sampai akhir… Maksudnya, kita sebagai penonton disuruh untuk menyaksikan video itu sampai habis, jangan ditonton hanya separo saja. Sebab ada surprise atau sesuatu yang lucu atau tak terduga yang akan muncul di akhir video itu.
Tetapi buat kita anak TUHAN, TUHAN perintahkan bukan cuma ‘wait’ tapi ‘watch’.. bukan cuma menunggu, tapi juga ‘melihat atau memperhatikan’. Di Alkitab, lebih jelas lagi DIA perintahkan, dan saudara bisa membacanya di dalam Markus 13 : 34 – 36. DIA memberikan perumpamaan seperti seorang tuan yang bepergian dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya. Ia memerintahkan hamba-hambanya untuk berjaga-jaga, bilamana tuannya itu pulang. Supaya jangan kalau tuannya itu tiba-tiba datang, tidak didapatinya bahwa hambanya itu sedang tidur.
Berjaga-jaga…berawas-awas… itu yang diperintahkan TUHAN untuk kita. Bukan sekedar menanti, atau menunggu. Tetapi berjaga. Bersiap. Bersiaga. Orang yang bersiaga, akan selalu menjaga perilaku dan sikapnya untuk senantiasa berkenan kepada ALLAH. Karena apa yang akan terjadi kelak, akan dirasakan dan menimpa seluruh penduduk bumi, tanpa terkecuali. Berbahagialah hamba yang ketika tuannya datang, dia sedang bersiaga dan bersiap senantiasa.
"Apa yang KUkatakan kepada kamu, KUkatakan kepada semua orang : berjaga-jagalah !" Markus 13 : 37

Ary dan Ester Handoko

Karena IA tahu jalan hidupku; seandainya IA menguji aku, aku akan timbul seperti EMAS

Ayub 23 : 10

Saudara yang terkasih, 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa barang-barang bermerk yang mahal-mahal, pasti akan dipalsukan. Sebut saja beberapa merk terkenal seperti : Gucci, Louis Vuitton, atau Etienne Aigner. Sudah banyak sekali barang-barang yang meniru barang aslinya, bahkan merknya pun akan dipalsukan dengan merk yang sama. Belum lagi barang yang super mahal seperti Hermes. Baik dari barang-barang fashion sampai parfumnya pun, telah dibuat produk palsunya. Bukan cuma barang-barang saja yang dipalsukan, bahkan mereka pun telah pandai memalsukan bahan-bahan makanan seperti : telur palsu sampai beras palsu. Bila tidak betul-betul cermat, bisa jadi barusan kita membeli telur atau beras palsu yang dibuat dari plastik di toko terdekat.
Makin lama orang makin pinter membikin tiruan. Makin lama makin canggih, makin mirip. Bahkan banyak barang-barang yang kita pikir made in America, atau made in British, tetapi ketika dibolak-balik, ada tulisan kecil dibalik kerah baju (misalnya) yang sulit dibaca, dan bila dipelototi ternyata berbunyi : made in China. Padahal bajunya bagus. Bahannya halus. Siapa sangka itupun made in China.
Saudara, di akhir jaman, segala sesuatu dipalsukan. Dibuat tiruannya. Begitu pula dengan pengikut KRISTUS. Kita tahu siapa penirunya. Sebelum merayakan Natal, ‘penirunya’ membuat dulu acara haloween yang dikemas dengan meriah, lucu dan menghibur. Ketika kita bersekutu di dalam komunitas gereja, mereka pun membuat komunitas yang ‘seperti gereja’ tetapi sama sekali tidak bicara soal TUHAN di dalam acara tersebut. Ketika kita di dalam gereja bernyanyi memuji TUHAN, penirunya juga mengajak pengikutnya ‘menyanyi dengan riang gembira’ di dalam acara itu, tetapi menyanyikan lagu-lagu dunia.
Di akhir zaman, kalau kita tidak berhati-hati, dan kalau kita tidak cemerlang, kita akan sama saja atau malah kalah ‘bersinar’nya dibanding brand anak TUHAN yang aspal alias seperti asli tapi palsu. Kualitas yang kita miliki harus betul-betul bagus. Harus benar-benar teruji. Barulah itu yang akan menyatakan bahwa kita adalah anak TUHAN yang murni, yang genuine atau asli ! Itulah yang akan membedakan kita dengan dunia.

Ary dan Ester Handoko